JURUS INDONESIA MENGHADAPI SANG NAGA

 ABSTRAK

 

            ACFTA (asean-china free trade agreement) telah menjadi momok yang sangat menakutkan bagi industri dalam negeri di indonesia. Produk-produk cina belakangan telah membanjiri pasar domestik hingga ke pasar-pasar tradisional. Kita seharusnya melihat ACFTA sebagai sebuah kesempatan (opportunity) dalam persaingan ekonomi, sehingga Indonesia diharapkan dapat menghadapi tantangan pasar global dengan melakukan berbagai pembenahan-pembenahan disektor industri maupun kebijakan pemerintah. Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber-sumber ekonomi yang jika dikelola dengan baik pasti mampu berkompetisi di pasar internasional.

 

ABSTRACT

 

ACFTA (asean-china free trade agreement)hasbecome a scarring specter for domestic industry in Indonesia. Recently Products from china overflow in domestic market till traditional market. We should observe ACFTA as a opportunity in economic rivalry, so Indonesia is desiderated to be able to face global market challenging by doing some emendations in industry sector or over in government’s policy. Indonesia is a rich country in economic resources that must be able to compete in international marker if it is managed as well as possible.

 

PENDAHULUAN

 Dewasa ini produk cina gencar memasuki pasar ekspor dibanyak negara, recently, Chine’s produk incessently come in export market in many countries, 

tidak hanya pada negara berkenbang tapi juga negara-negara maju seperti amerika dan negara-negara eropa.

not only in developing country but also in many developed countrie. As like america and some of countries in europe. Hal ini sangat mengejutkan shocking karena sepuluh tahun lalu, cina bukan negara apa-apa dibidang industri dan ekonomi.

Overflow Banjirnya produk China ke Indonesia bukan karena industri Indonesia tidak mampu bersaing dengan industri China dalam ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA). Namun hal tersebut diakibatkan oleh kesalahan dalam pengelolaan industri nasional.

Pengamat ekonomi Faisal Basri mengatakan bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam yang jauh melimpah dibandingkan dengan China. Jadi tidak mungkin industri Indonesia kalah bersaing dengan China jika bukan karena salah kelola.

Pada era perdagangan bebas saat ini, batasan-batasan perdagangan menjadi sangat tipis. Benar dikatakan oleh pakar ekonomi asia “kehnichi ohmae” bahwa dunia akan menjadi borderless world . setiap negara dapat mengekspor produknya kenegara lain tanpa adanya batasan kuota yang diberikan oleh negara pengimpor.

Tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik. Demikian kata pepatah yang bisa digunakan untuk menggambarkan kondisi ACFTA yang sudah berjalan. Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumberdaya alamnya pasti bisa menghadapi ACFTA dengan mudah jika sumber tersebut dikelola dengan baik. Tidak ada salahnya pula jika indonesia meniru strategi cina dalam menguasai pasar global. Indonesia pasti bisa lebih besar dari cina. Tidakllah terlambat jika Indonesia baru memulai menggarap pasar global sekarang ini dari pada terus berpangku tangan dan menyalahkan adanya ACFTA yang sudah berlaku.

TUJUAN

Ikut membantu menyumbang pemikiran untuk mengatasi masalah ekonomi yang sedang dihadapi oleh Indonesia. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa ekonomi Indonesia sedang mengalami ujian yang berat dengan adanya ACFTA (ASEAN-China Free Trade agreement).

 PENDEKATAN TEORITIK

 Pendekatan teori yang saya gunakan adalah mengumpulkan berbagai data dari pihak-pihak yang bersangkutan dengan perekonomian indonesia kususnya tentang ACFTA (ASEAN-China free trade agreement), selain itu saya juga mengumpulkan beberapa data dari mesin pencari data “Google” dan “Yahoo”, serta bari beberapa media massa. Untuk waktu yang saya gunakan dalam pencarian dan pengumpulan data ini lebih kurangnya adalah 7 hari (seminggu).

 HASIL DAN PEMBAHASAN

 Geliat Industri Sang Naga

 Cina “sang naga ” terlihat sangat cepat mengambil peluang di pasar global. Cina yang sebelumnya menutup diri dengan kebijakan ekonominya yang sentralistik kini mulai membuka diri bagi perdagangan dan investasi. Pemerintah Cina merasa negaranya perlu melakukan transformasi ekonomi yang bersifat terbuka. Hal itu ditunjukkan dengan banyaknya kemudahan-kemudahan bagi pendiri usaha dan investasi.

            Salah satu kemudahan itu berupa rendahnya tingkat suku bunga yang berkisar antara lima sampai enam persen. Biaya angkutan dipelabuhan bagi industri yang melakukan ekspor juga ditekan semurah mungkin. Dengan pemberian kemudahan-kemudahan itu diharapkan industri Cina mampu menghasilkan produk yang berkualitas, murah, dan berdaya saing tinggi di pasar ekspor internasional. Dan diharapkan pula pasar akan mulai melirik produk Cina karena mampu berperan sebagai cost leader. (gatra, 2011)

            Usaha pemerintah Cina ini pelan-pelan mulai membuahkan hasil. Pada tahun 1996 Cina masih berada pada posisi 10 sebagai negara pengekspor terbesar dunia dan telah mencapai posisi 4 pada tahun 2003. Pada tahun itu, china berhasil mencapai mencapai volume perdagangan ekspor sebesar 5,88 miliar dollar AS. Pertumbuhan ini jelas menghawatirkan negara-negara tetangganya seperti negara di ASEAN. Sedangkan bagi Cina, ASEAN dengan 530 juta penduduknya, menjadi peluang yang besar bagi produk Cina. Apalagi adanya AFTA sebagai kawasan perdagangan bebas negara-negara ASEAN, Cina menjadi lebih agresif dengan menyatakan ingin bergabung dengan AFTA.

            Sedangakan bagi Indonesia, angka impor dari Cina pada jangka waktu mulai Januari 2010 sampai November 2010 naik 47,3% dibanding dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Cina adalah negara pemasok pertama di Indonesia kemudian Jepang dan Singapura. Serbuan produk Cina kedalam negeri semakin merajalela setelah diberlakukannya ACFTA.

            Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), hingga november 2010, indonesia mengalam defisit neraca perdagangan dengan Cina yang cukup besar. Pada 11 bulan pertama itu, ekspor indonesia ke Cina sebesar 12,379 milyar atau sekitar  Rp 111,4 trilyun, sedangkan impor mencapai 17,695 milyar dollar AS. Artinya Indonesia tekor devisa US$ 5,316 milyar atau sekitar Rp 47,84 trilyun.

Dampak diberlakukannya ACFTA Bagi Perekonomian Indonesia

Setelah diberlakukannya ACFTA, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa perekonomian Indonesia semakin morat-marit. Beberapa sektor semakin memburuk dan tidak jarang industri yang gulung tikar akibat serbuan produk Cina yang sangat gencar.

  1. 1.      Serbuan Produk Cina Mengancam Ekonomi Indonesia

Berdasarkan data Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, peran industri pengolahan mengalami penurunan dari 28,1% pada 2004 menjadi 27,9% pada 2008. Diproyeksikan 5 tahun ke depan penanaman modal di sektor industri pengolahan mengalami penurunan US$ 5 miliar yang sebagian besar dipicu oleh penutupan sentra-sentra usaha strategis IKM (industri kecil menegah). Jumlah IKM yang terdaftar pada Kementrian Perindustrian tahun 2008 mencapai 16.806 dengan skala modal Rp 1 miliar hingga Rp 5 miliar. Dari jumlah tersebut, 85% di antaranya akan mengalami kesulitan dalam menghadapi persaingan dengan produk dari Cina (Bisnis Indonesia, 9/1/2010).

Serbuan  produk Cina dengan kualitas dan harga yang sangat bersaing akan mendorong pengusaha dalam negeri berpindah usaha dari produsen di berbagai sektor ekonomi menjadi importir atau pedagang saja. Sebagai contoh, harga tekstil dan produk tekstik (TPT) Cina lebih murah antara 15% hingga 25%. Menurut Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat Usman, selisih 5% saja sudah membuat industri lokal kelabakan, apalagi perbedaannya besar. Hal yang sangat memungkinkan bagi pengusaha lokal untuk bertahan hidup adalah bersikap pragmatis, yakni dengan banting setir dari produsen tekstil menjadi importir tekstil Cina atau setidaknya pedagang tekstil. Sederhananya, “Buat apa memproduksi tekstil bila kalah bersaing? Lebih baik impor saja,  murah dan tidak perlu repot-repot jika diproduksi sendiri.” (Bisnis Indonesia, 9/1/2010)

Gejala inilah yang mulai tampak sejak awal tahun 2010.tidak hanya disektor tekstil, bahkan sampai di sektor jamu tradisional pun juga mendapat ancaman. Misal, para pedagang jamu sangat senang dengan membanjirnya produk jamu Cina secara legal yang harganya murah dan dianggap lebih manjur dibandingkan dengan jamu lokal. Akibatnya, produsen jamu lokal terancam gulung tikar.

  1. 2.      Kekuatan Perekonomian Dalam Negeri Semakin Melemah Dan Tergantung Pada Produl Asing.

Segala sesuatu terlalu bergantung pada produk asing. Bahkan produk yang sangat sepele seperti jarum saja harus diimpor. Jika banyak sektor ekonomi bergantung pada impor, sedangkan sektor- sektor vital ekonomi dalam negeri juga sudah dirambah dan dikuasai asing.

Indonesia memiliki kemampuan hebat bersaing di pasar ASEAN dan Cina? Data menunjukkan dari BPS (badan pusat statistik) bahwa tren pertumbuhan ekspor non-migas Indonesia ke Cina sejak 2004 hingga 2008 hanya 24,95%, sedangkan tren pertumbuhan ekspor Cina ke Indonesia mencapai 35,09%. Kalaupun ekspor Indonesia bisa digenjot, yang sangat mungkin berkembang adalah ekspor bahan mentah, bukannya hasil olahan yang memiliki nilai tambah seperti ekspor hasil industri. Pola ini malah sangat digemari oleh Cina yang memang sedang “haus” bahan mentah dan sumber energi untuk menggerakkan ekonominya.

 Strategi Indonesia Menghadapi Serbuan Produk Sang Naga

 Semenjak diberlakukan ACFTA pada tanggal 1 Januari 2010, itu menjadi “PR” besar bagi pemerintah Indonesia untuk memajukan perekonomian Indonesia. Dengan adanya ACFTA pemerintah di tuntut untuk bekerja keras dalam membuat strategi menghadapi ACFTA serta harus dibarengi dengan politik ekonomi pemerintah yang jelas dan tegas, khususnya untuk membangun daya saing dari keuntungan komparatif menjadi keuntungan yang kompetitif. Dengan adanya ACFTA ini seharusnya menjadi katup kebangkitan pasar domestik di Indonesia. Karena seharusnya kita bisa melihat adanya sebuah peluang dibalik strategi China yang memperluas pasarnya ke Negara-negara ASEAN seperti Indonesia, Singapura, Kamboja, dan Thailand.

Ada beberapa pendapat yang berkaitan dengan strategi menghadapi ACFTA Cins tersebut. Berikut adalah penjelasan dari beberapa pendapat tersebut:

              Pertama, Pengamat ekonomi Faisal Basri mengatakan bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam yang jauh melimpah dibandingkan dengan China. Jadi tidak mungkin industri Indonesia kalah bersaing dengan China jika bukan karena salah kelola. “Coba lihat, China itu negara dengan 4 musim, kita kan cuma 2. Cabe di sana Cuma ada waktu musim panas, di sini ada sepanjang tahun. Jadi tidak mungkin kita kalah,” kata Faisal dalam diskusi bertajuk Banjir Produk China Makin Gila, di Jakarta, Sabtu (23/4/2010).

Faisal menilai Indonesia hanya bisa berpangku tangan dengan menyalahkan banjirnya impor produk China. Padahal Indonesia juga harus bersikap adil dan berusaha bersaing dengan beredarnya produk China. “Sejak zaman Kerajaan Sriwijaya, dalam sisi apa pun kita dapat bersaing dengan China. Maka ayo dong, kita menatap China sebagai opportunity juga. Jangan mengeluh,” ujarnya.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan, Distribusi, dan Logistik Natsir Mansyur mengakui bahwa industri Indonesia memang  kalah persiapan dengan China dalam 10 tahun terakhir. Ia mengemukakan bahwa China sudah memulai free trade agreement (FTA) dan perjanjian pedagangan bebas lainnya lebih dulu sehingga mereka bisa mengalami kemajuan pesat dalam perdagangan dunia. “China sudah menggarap FTA sejak 10 tahun lalu. Industri hilir China 10 tahun lalu sudah memanfaatkan FTA. Jadi wajar saja jika RI masih kalah dengan China,” tuturnya. Selain itu China juga telah memulai standarisasi produk industri sejak 5 tahun lalu.

Maka Natsir mengatakan strategi yang harus diambil Indonesia dalam menghadapi ACFTA adalah dengan melakukan hilirisasi industri nasional. Menurutnya hilirisasi perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas produk industri nasional sehingga industri nasional tidak hanya menghasilkan produk bahan mentah tetapi menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah tinggi. Pembenahan regulasi yang mengarah pada hilirisasi industri nasional juga perlu dilakukan. Dari sisi konsumen, masyarakat Indonesia diminta meningkatkan sikap cinta produk dalam negri sebagai salah satu cara mendukung pertumbuhan industri nasional. “Pemerintah bersama dengan masyarakat harus saling bekerja sama untuk meningkatkan mutu dan kualitas dari produk lokal, tentu untuk menjadikan produk lokal menjadi prioritas utama masyarakat Indonesia,” kata Natsir.

Bahkan Natsir menyindir, anggaran belanja pemerintah yang mencapai lebih dari Rp500 triliun harusnya digunakan untuk membeli produk dalam negeri, bukan luar negri. Jika keadaannya masih sama seperti sekarang, ia pesimistis industri nasional bisa bersaing dengan industri China.

Kedua, Ada beberapa strategi untuk menghadapi ACFTA, antara lain :

pertama, membenahi struktur birokrasi pemerintahan. Melihat model Australia dan Kanada yang menyatukan kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Internasional. Contoh lain kasus di Jerman yang merekrut lebih banyak sarjana-sarjana ekonomi daripada sarjana hukum dalam penerimaan pegawai di Kementerian Luar Negerinya. Hal ini dapat dikatakan bahwa kegiatan ekonomi mengambil alih diplomasi konvensional yang membahas isu-isu politik dan militer.

Kedua, memasukkan kepentingan diplomasi eko-politik kepada negara yang dituju, sambil memakai jaringan yang luas untuk membela konstituen bukan negara, khususnya masyarakat bisnis di negara lain. Hubungan AS-China yang telah berkembang pada masa 20 tahun ke belakang, merupakan contoh yang luar biasa ketika ekonomi menjadi faktor pendorong utama dalam membangun hubungan politik. Setiap kali pemerintah AS atau hubungan China dengan Taiwan dan ketika isu-isu ini bertentangan dengan kepentingan Beijing, organisasi yang merupakan lobby-lobby bisnis AS yang merupakan potensi pasar utama di negara tersebut, berperan aktif dalam ‘mempertahankan’ kepentingan ekspor. Ini menjadi contoh bagaimana ekonomi menjadi faktor penggerak hubungan politik.

Ketiga, menghidupkan kembali slogan ‘Aku Cinta Produk Indonesia’. Perilaku masyarakat Indonesia harus diubah, yang dulunya selalu berorientasi pada produk impor, yang dianggap lebih baik dan lebih trendy, harus membuka mata lebar-lebar bahwa produk asli Indonesia kualitasnya lebih baik dan juga selalu mengikuti trend. (warta gunadarma, 2010)

              Ketiga, perusahaan-perusahaan lokal harus me-redesign strategi bisnis-nya untuk memenangkan persaingan atau sekedar bertahan terhadap serangan produk Cina. Perusahaan perlu memperhatikan empat drivers utama (4P) untuk mencapai tujuan secara optimal: Pasar, Pengeluaran, Pekerja, dan Pengetahuan. (Tambunan, Tulus.2001)

Pemahaman yang lebih mendalam terhadap kebutuhan pasar dan respon yang cepat terhadap perubahan pasar akan mampu meningkatkan intimasi terhadap pelanggan (customer intimacy) dan mengikat pelanggan (customer locking) sehingga tidak pindah ke kompetitor. Untuk itu, perlu dilakukan needs-based segmentation dan dibangun innovation engine yang secara sinambung dan efektif menangkap customer needs, mentransformasikan needs tersebut dalam desain produk/servis yang tangguh serta membangun value proposition yang tepat.

Peningkatan efisiensi dan efektifitas biaya (cost) yang komprehesif akan mampu menekan biaya (price) yang perlu ditanggung oleh konsumen sehingga dapat memberikan value yang superior. Secara umum, ada empat level peluang peningkatan efisiensi dan efektifitas biaya (cost) yang dapat dioptimalkan: (1) peningkatan efisiensi dan produktivitas; (2) perbaikan kegiatan/aktivitas penunjang (systemic cost); (3) perbaikan kegiatan/aktivitas produksi (structural cost); (4) pemilihan bisnis apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak (inherent cost).

Pengelolaan pekerja yang optimal akan mampu meningkatkan kinerja organisasi yang tinggi dan profesional. Untuk itu, perusahaan perlu meninjau ulang kebijakan dan strategi pemberdayaan pekerjanya dengan menjawab tiga pertanyaan fundamental: (1) How to find the right people? (2) How to unlock their full potential? (3) How to maintain the right people?

Pengelolaan pengetahuan (knowledge management) yang baik akan memberikan nilai lebih bagi perusahaan (value creation) dan membangun keunggulan bersaing (competitive advantage). Secara umum, ada tiga pilar utama yang penting dalam knowledge management: (1) People, yaitu pekerja yang memiliki best knowledge, (2) Process, yaitu cara pekerja untuk membagikan best knowledgenya; (3) Teknologi, yaitu enabler yang memampukan best knowledge tersebut dapat diutilisasi oleh organisasi.

              Keempat, Menurut Ketua Komisi IV DPR, Airlangga Hartarto. Airlangga menilai untuk menghadang derasnya arus barang dari Cina, ada dua langkah besar yang harus dilakukan pemerintah. Yaitu “merumuskan kebijakan ekonomi yang dapat meningkatkan daya saing dan menerapkan kebijakan yang bisa menghambat masuknya produk Cina ”.

Agar daya siang meningkat, harus dilakukan berbagai upaya. Antara lain, mendorong penurunan suu bunga kredit bank, perbaikan infrastruktur, penyediaan bahan bakar yang memadahi untuk industri, dan tarif dasar listrik yang terjangkau. Nnamun yang disesalkan, daya saing nasional belum tercipta, pemerintah malah mau menaikkan harga listrik. Direktur PLN, Dahlan Iskan ngotot agar tarif listrik untuk industri dinaikkan, sedangkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral masih pikir-pikir.

Upaya mengurangi produk Cina yang dilakukan selama ini masih sebatas dengan hambatan nol tarif. Karena berdasarkan ACFTA, bea masuk dari dan ke Cina adalah 0%. Caranya, mengharuskan labelisasi produk yang masuk ke Indonesia dengan bahasa indonesia. Sehingga memang barang yang disiapkan untuk diekspor ke Indonesia yang masuk.

Langkah kedua adalah membatasi pelabuhan impor. Meskipun kementrian perdagangan hanya menetapkan tujuh pelabuhan sbagai pintu masuk ke Indonesia, namun kenyataannya barang bisa masuk dari selain tujuh pelabuhan tersebut. (gatra,2011)

              Kelima, Untuk mengantisipasi dan menghadapi gempuran produk impor dari Cina kelak masuk ke Indonesia, ada beberapa strategi dan kebijakan yang perlu dilakukan, dengan cara mengefektifkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 56/2008 yang mengharuskan setiap barang impor yang masuk ke Indonesia harus sud`ah lolos verifikasi Sucofindo.

Demikian diungkapkan Pengamat Ekonomi Untan, Evi Asmayadi, menurutnya, hasil verifikasi itu bisa dicantumkan dalam bentuk sertifikat yang ditempel di setiap barang produk impor yang masuk ke pasar Indonesia. Kemudian segera diberlakukan penggunaan Standar Nasional Indonesia (SNI) terhadap produk impor, termasuk produk buatan Cina yang akan masuk. Selanjutnya, kata ia SNI tersebut juga harus diberlakukan terhadap produk-produk buatan pabrik milik perusahaan Cina yang ada di Indonesia.  “Penerapan SNI ini penting untuk menciptakan standarisasi produk-produk impor  yang masuk ke Indonesia,” kata Evi via email, Senin (25/1) lalu.

Ia menambahkan, hal yang tak kalah penting adalah membenahi faktor-faktor yang menyangkut peraturan dan perijinan, meminimalisir ekonomi biaya tinggi, menurunkan suku bunga kredit, mempercepat pembangunan dan perbaikan infrastruktur, khususnya listrik, jalan, air bersih, dan pelabuhan, kemudian  meningkatkan kualitas entrepreneur dan tenaga kerja,  teknologi produksi, pemasaran, keuangan,  iklim usaha dan investasi.

KESIMPULAN

 Dari kelima pendapat tersebut, dapat ditarik kesimulan bahwa untuk menghadapi ACFTA (ASEAN-China Free Trade Agreement), pemerintah Indonesia harus melakukan beberapa langkah sebagai berikut:

  1. Memperbaiki sistem pengelolaan sumberdaya alam dan sumberdaya manusia Indonesia yang melimpah.
  2. Membenahi sistem birokrasi pemerintah dan sistem diplomasi eko-politik kepada negara yang dituju.
  3. Merumuskan kebijakan yang dapat meningkatkan daya saing serta menerapkan kebijakan yang dapat menghambat produk China.
  4. mengefektifkan Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 56/2008 yang mengharuskan setiap barang impor yang masuk ke Indonesia harus sudah lolos verifikasi Sucofindo.

Sementara itu yang harus dilakukan oleh perusahaan-perusahaan adalah memperhatikan empat drivers utama (4P) untuk mencapai tujuan secara optimal. Diantaranya adalah:

  1. pasar, Pemahaman yang lebih mendalam terhadap kebutuhan pasar dan respon yang cepat terhadap perubahan pasar.
  2. Pengeluaran, Peningkatan efisiensi dan efektifitas biaya (cost) yang komprehesif sehingga dapat memberikan value yang superior.
  3. Pekerja, Pengelolaan pekerja yang optimal akan mampu meningkatkan kinerja organisasi yang tinggi dan profesional.
  4. Pengetahuan, Pengelolaan pengetahuan (knowledge management) yang baik akan memberikan nilai lebih bagi perusahaan (value creation) dan membangun keunggulan bersaing (competitive advantage).

 DAFTAR PUSTAKA

 http://kollumnis.com/industri-indonesia-dipasar-global

http://Wartawarga.Gunadarma.Ac.Id/2010/05/Grand-Strategi-Indonesia-Dalam-Menghadapi-Cafta

Koran Media Indonesia, edisi Selasa 19 Januari 2010

Majalah gatra edisi 3-9 februari 2011

Tambunan, Tulus.2001. Perekonomian Indonesia beberapa permasahan penting, Jakarta: Ghalia Indonesia

www.bisnisindonesia.com/acfta

www.borneotribune.com/okonomi/permendagri-strategi-menghadapi-acfta

www.mediaindonesia.com/industri-indonesia-salah-kelola

By marzocchiahmed

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s